
Di sebuah kampung bernama Sukaheboh, berdiri sebuah pohon kelapa yang sangat tinggi di pinggir sawah. Pohon itu sudah ada sejak zaman kakek buyut warga setempat. Karena batangnya miring dan daunnya sering bergoyang sendiri meskipun tidak ada angin, banyak orang percaya kalau pohon tersebut dihuni oleh hantu.
Setiap malam Jumat, selalu ada saja cerita baru tentang penampakan di pohon kelapa itu.
"Aku lihat bayangan putih melayang di atas pohon!" kata Pak Darto suatu pagi.
"Itu belum seberapa. Aku dengar suara ketawa menyeramkan dari atas sana!" sahut Pak RT.
Warga langsung heboh. Dalam hitungan jam, cerita itu menyebar ke seluruh kampung SITUS BOBATOTO. Bahkan ada yang menambahkan bumbu cerita.
"Kata sepupu tetangga ipar saya, hantunya bisa jungkir balik sambil nyanyi dangdut!"
Semakin lama, cerita semakin tidak masuk akal.
Di antara semua warga, ada seorang pemuda bernama Jono. Ia terkenal karena rasa penasarannya yang kelewatan.
Kalau ada orang bilang ada ular sebesar truk, Jono pasti ingin mengukurnya.
Kalau ada yang bilang sumur tua bisa bicara, Jono malah membawa mikrofon.
Karena itu, saat mendengar cerita hantu pohon kelapa RTP BOBATOTO, ia memutuskan untuk menyelidikinya.
Malam Jumat pun tiba.
Dengan membawa senter, termos kopi, dan sebungkus kerupuk, Jono berjalan menuju pohon kelapa keramat itu.
"Kalau benar ada hantu, minimal aku bisa wawancara," gumamnya.
Sesampainya di bawah pohon, suasana memang cukup menyeramkan. Bulan tertutup awan. Jangkrik berbunyi dari segala arah.
Jono duduk sambil memakan kerupuk BOBA TOTO GACOR.
Kriuk... kriuk...
Tiba-tiba terdengar suara dari atas pohon.
"Heh! Bisa pelan sedikit makannya?"
Jono langsung membeku.
Kerupuk di tangannya hampir jatuh.
Ia mengarahkan senter ke atas.
"Siapa itu?"
Dari balik pelepah kelapa muncul sosok putih dengan rambut panjang.
"Aku hantu pohon kelapa SITUS BOBA TOTO."
Jono terdiam beberapa detik.
"Oh, jadi benar ada hantunya?"
"Iya."
"Wah, akhirnya ketemu juga."
Hantu itu justru terlihat bingung.
"Kamu kok tidak lari?"
"Ngapain lari? Aku malah senang."
Hantu tersebut menghela napas panjang.
Selama ratusan tahun menjadi hantu, baru kali ini ia bertemu orang yang tidak takut BOBATOTO.
Namanya ternyata Mbah Kelapong, hantu penjaga pohon kelapa.
Mereka pun mengobrol.
Semakin lama, Jono semakin sadar bahwa Mbah Kelapong bukan hantu menyeramkan.
Sebaliknya, ia sangat cerewet.
Hampir dua jam Jono mendengarkan keluhan sang hantu.
"Aku capek."
"Capek kenapa?"
"Setiap malam harus duduk di atas pohon."
"Loh, kan memang tinggal di situ."
"Iya, tapi bosan."
Jono mengangguk.
Masuk akal juga.
Lalu Mbah Kelapong bercerita bahwa selama ini banyak isu aneh tentang dirinya.
"Aku tidak pernah menakut-nakuti warga SITUS BOBATOTO."
"Serius?"
"Serius. Yang dibilang suara tertawa menyeramkan itu sebenarnya aku lagi batuk."
Jono hampir tersedak kopi.
"Batuk?"
"Iya. Aku makan kelapa muda kebanyakan."
"Memangnya hantu bisa batuk?"
"Memangnya ada aturan tidak boleh?"
Jono tidak bisa membantah.
Keesokan paginya, Jono menceritakan pengalamannya kepada warga.
Namun tidak ada yang percaya.
Bahkan Pak RT menuduh Jono mengarang cerita.
Akhirnya Jono punya ide.
Ia mengajak warga berkumpul malam berikutnya di bawah pohon kelapa BOBATOTO LOGIN.
Semua datang dengan rasa penasaran.
Ada yang membawa senter.
Ada yang membawa sapu.
Ada juga yang membawa panci karena mengira akan terjadi perang melawan hantu.
Saat malam semakin larut, Mbah Kelapong muncul dari atas pohon.
Warga langsung berteriak.
"Hantuuuu!"
Beberapa orang bahkan hampir lari.
Namun Mbah Kelapong buru-buru mengangkat tangan.
"Tunggu! Jangan kabur dulu!"
Warga berhenti.
Mereka belum pernah mendengar hantu meminta orang untuk tidak kabur.
"Ada apa?" tanya Pak RT gemetar.
Mbah Kelapong lalu mengeluarkan secarik kertas.
"Aku mau mengumumkan sesuatu."
Warga saling pandang.
Pengumuman?
Hantu macam apa membawa pengumuman?
Ternyata Mbah Kelapong sedang mencari anggota klub.
"Klub apa?" tanya Jono.
"Klub Penggemar Kelapa."
Suasana langsung hening.
Tidak ada yang menyangka.
Dengan semangat, Mbah Kelapong mulai menjelaskan manfaat kelapa selama hampir tiga puluh menit.
Mulai dari santan, minyak kelapa, air kelapa, hingga sapu lidi.
Pak RT yang tadinya takut perlahan malah mengantuk.
Pak Darto bahkan sempat tertidur sambil berdiri.
Sejak malam itu, warga tidak lagi takut kepada Mbah Kelapong.
Sebaliknya, mereka mulai sering mengobrol dengannya.
Anak-anak kampung sering datang membawa teka-teki.
Para petani kadang meminta saran soal cuaca.
Meski aneh, banyak nasihat Mbah Kelapong yang ternyata berguna.
Namun ada satu kebiasaan sang hantu yang membuat semua orang kesal.
Ia sangat suka memberikan komentar.
Apa pun yang dilakukan warga selalu dikomentari.
Saat Pak RT mengecat pagar, Mbah Kelapong berteriak dari atas pohon.
"Kurang rata!"
Saat Bu Siti menjemur pakaian.
"Itu bajunya kebalik!"
Saat Jono bermain layangan.
"Belok kanan sedikit!"
Lama-kelamaan warga merasa terganggu.
Akhirnya mereka mengadakan rapat kampung.
Setelah diskusi panjang, diputuskan bahwa Mbah Kelapong harus diberi kesibukan agar tidak terus mengomentari orang.
Mereka lalu mengangkatnya menjadi komentator pertandingan sepak bola kampung.
Ternyata keputusan itu sangat tepat.
Setiap ada pertandingan, Mbah Kelapong duduk di atas pohon sambil memberikan komentar.
"Giring terus!"
"Jangan oper ke kambing!"
"Itu wasit atau penonton?"
Pertandingan menjadi jauh lebih meriah.
Bahkan warga dari kampung sebelah mulai berdatangan hanya untuk mendengar komentarnya.
Nama Mbah Kelapong pun semakin terkenal.
Bukan sebagai hantu menyeramkan.
Melainkan sebagai komentator paling kocak di daerah itu.
Suatu hari, seorang pemburu hantu dari kota datang ke kampung.
Ia mendengar kabar bahwa ada hantu di pohon kelapa.
Dengan percaya diri, ia membawa berbagai alat canggih.
Saat tiba di lokasi, ia berteriak lantang.
"Hantu! Keluar kau!"
Mbah Kelapong muncul dari atas pohon.
Pemburu hantu langsung menyalakan alat pendeteksi.
Namun sebelum sempat beraksi, Mbah Kelapong bertanya.
"Kamu dukung tim mana?"
Pemburu hantu bingung.
"Apa?"
"Dukung tim mana?"
Percakapan itu berlanjut menjadi perdebatan sepak bola selama dua jam.
Pada akhirnya, pemburu hantu lupa tujuan awal kedatangannya.
Ia malah pulang sambil membawa dua butir kelapa hadiah dari Mbah Kelapong.
Sejak saat itu, pohon kelapa di Kampung Sukaheboh tidak lagi dikenal sebagai pohon angker.
Semua orang mengenalnya sebagai markas Mbah Kelapong, hantu paling ramah, paling cerewet, dan paling kocak yang pernah ada.
Dan jika pada malam hari terdengar suara dari atas pohon kelapa, warga tidak lagi ketakutan.
Mereka sudah tahu.
Kemungkinan besar Mbah Kelapong sedang mengomentari pertandingan sepak bola yang ditontonnya dari televisi milik Pak RT melalui jendela rumah.
"Gol bagus!"
"Loh, kok offside?"
"Wasitnya perlu periksa mata!"
Begitulah kehidupan di Kampung Sukaheboh. Satu-satunya kampung yang memiliki hantu pohon kelapa, tetapi justru lebih terkenal karena lelucon daripada terornya. Bahkan banyak warga mengaku, kalau suatu hari Mbah Kelapong pindah dari pohon itu, kampung mereka akan terasa jauh lebih sepi daripada menyeramkan.